Hukum Islam

Senin, 08 Juli 2013

Visibilitas Hilal 1 Ramadan 1434 Hijriyah di Palangka Raya


VISIBILITAS HILAL 1 RAMADAN 1434 HIJRIYAH  DI PALANGKA RAYA
Oleh: Ali Murtadho, S.Ag., M.H.
(Mantan Pelaksana Hisab Rukyah Kantor Kementerian Agama Kab.  Sintang Prov. Kalimantan Barat yang kini  Pegawai pada STAIN Palangka Raya)

Seorang anak tiga belas tahun di bulan Syakban
Menjelang suatu Maghrib berseru kepada bulan
“Rembulan, adakah teka-teki yang akan kau suguhkan
Tentang nama hari apa gerangan, awal dan akhir  Ramadan?”

Itulah potongan  sebait syair  puisi yang ditulis oleh  penyair kenamaan yang bergelar Datuk Panji Alam Khalifatullah yang diberijudul  “ Bulan, Apa Betul itu, Kau Sulit Dilihat?”. Beliau adalah  Taufik Ismail yang telah menulis  puisi ini pada hari Rabu, 14 Ramadan 1420 H/12 Desember  1999 ketika di Masjidil Haram dan sempat dimuat di harian REPUBLIKA, Sabtu, 15 Desember 2002.
Setiap kali datang bulan ramadhan, sebagian besar umat Islam yang tak terkecuali Taufik Ismail yang telah dibuat galau oleh pertanyaan , kapan dimulai puasa Ramadannya, bersamaan atau tidak? Dan kapan pula hari raya idul fitrinya, bersamaan atau tidak?  Kendatipun kalender yang tergantung di rumah-rumah mereka  telah terjadwal  dengan apik dan jelas. Itulah barangkali makna potongan syair di atas yang menyiratkan kegalauan sikap sebagian besar umat Islam ketika Ramadan akan  menghampirinya

Jumat, 31 Mei 2013

Zakat Profesi Dalam Tinjauan Hukum Islam



ZAKAT PROFESI DALAM TINJAUAN HUKUM ISLAM[1]
Oleh : Ali Murtadho, S.Ag., M.H.
Tenaga Pengajar Pada Sekolah Tinggi Agama Islam Ma’arif(STAIMA) Sintang
Jl. Mensiku Jaya Kel. Kapuas Kanan Hilir Kota Sintang Kab. Sintang

Abstrak: Munculnya istilah Zakat Profesi di tengah-tengah kehidupan keagamaan umat Islam adalah sebuah realitas  empiris  karena dinamika dan perkembangan situasi dan kondisi yang berubah. Di mana istilah Zakat Profesi ini belum pernah dikenal pada masa Nabi Muhammad Saw. Hanya ada tujuh jenis zakat yang dikenal pada masa Rasulullah Saw., yaitu: zakat emas, perak, zakat hasil tanaman, zakat buah-buahan, zakat barang-barang perdagangan, zakat binatang ternak, zakat barang tambang dan zakat barang temuan(harta karun). Tidak dikenalnya zakat profesi pada masa Rasulullah Saw.  bukan berarti tidak diwajibkan. Kewajiban mengeluarkan zakat profesi dewasa ini mendasarkan diri kepada sumber hukum Islam al-Qur’an dan al-Hadist  melalui metodologi ijtihadi yakni dengan metode qiyas/analogi. Zakat profesi dianalogikan/diqiyaskan kepada zaktnya emas dan perak. Metode ini dipakai dalam rangka menjelaskan secara normatif-deduktif  yang mengacu pada al-Qur’an dan al-Hadits terhadap persoalan-persoalan yang timbul di kemudian hari yang tidak ditunjuk hukumnya di dalam  sumber hokum Islam tersebut.

Kata Kunci : Zakat Profesi, Hukum Islam

  1. Pendahuluan
 Islam adalah agama yang memperhatikan kesejahteraan sosial. Hal ini dapat dilihat dari adanya aturan tentang kewajiban membayar zakat, yaitu memberikan harta dari orang kaya kepada orang miskin. Kemiskinan adalah hal yang sudah dikenal semenjak beberapa abad yang silam. Dengan demikian umat manusia tidak pernah jauh dari kegiatan bagaimana mengusahakan agar hal ini bisa diatasi.[2] Sehingga tidak ada individu yang tersia-siakan, yang tidak punya nafkah dan bekal hidup. Cara yang paling baik untuk membagi harta adalah zakat, dengan ukuran yang tidak menyulitkan bagi si kaya, zakat dapat meningkatkan taraf hidup si miskin, menyelamatkannya dari kesengsaraan hidup dan beban kehidupan yang berat.[3]
Konsep Islam dalam mewajibkan mengeluarkan zakat tidak semata-mata untuk melaksanakan kewajiban agama, akan tetapi untuk memecahkan problema kemiskinan, memeratakan pendapatan, meningkatkan kesejahteraan umat dan Negara. Hal ini tidak akan tercapai, apabila pelaksanaan zakat  diserahkan sepenuhnya kepada kemauan  para wajib zakat.[4]
Zakat bukanlah suatu karunia yang diberikan oleh si kaya kepada si miskin, akan tetapi zakat adalah hak si miskin yang dititipkan oleh Allah melalui orang kaya supaya diberikannya kelak kepada si miskin. Firman Allah : “Di dalam harta mereka ada hak orang yang meminta dan hak orang yang tidak meminta karena malu (orang yang membutuhkan)”[5] Kewajiban membayar zakat adalah kewajiban yang mendasar dalam ajaran Islam dan dianggap sebagai satu rukun dari rukun Islam yang lima, sesuai dengan sabda nabi dalam sebuah al-Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abdullah bin Umar yang artinya:“Islam itu dibangun atas lima dasar : bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, menunaikan ibadah haji dan berpuasa pada bulan ramadhan”.[6]

Memuat...